Peraturan

Kasus Pidana

Aloha teman-teman,

Post kali ini, saya mau bagi info nih tentang tahapan seseorang jika mengalami kasus pidana. Jadi ini alur-alur yang harus dihadapi:

  1. Pelaporan dari korban ke polisi
  2. Penyelidikan oleh polisi/PNS/KPK/Kejaksaan. Pada proses ini, masih belum ada tersangka, hanya terdapat saksi. Saksi tidak boleh berbohong dan boleh didamping oleh pendamping hukum.
  3. Penyidikan oleh polisi/PNS/KPK/Kejaksaan. Pada proses ini, tersangka dan saksi-saksi diperiksa serta sudah terdapat tersangka. Kalau berkas sudah lengkap maka dikirim ke kejaksaan.
  4. Penuntutan dilakukan oleh jaksa. Jaksa menyusun surat dakwaan dan dilimpahkan ke pengadilan. Pada proses ini, sudah terdapat terdakwa. Tidak semua jaksa menjadi JPU (Jaksa Penuntut Umum). Terdakwa akan dipanggil oleh pengadilan jika sudah ada kepastian dari majelis hujum.
  5. Pengadilan masih terdapat tahapan lagi.

Tahapan pengadilan:

  1. Pembacaan dakwaan. JPU yang membaca dakwaan dan subsider yang berisi tentang pasal-pasal.
  2. Kalau pembacaan dakwaan tidak sesuai maka dapat ditangkis yaitu pembacaan eksepsi. Eksepsi bisa disebabkan karena jenis pengadilan yang berbeda ( kasus korupsi namun sidangnya di pengadilan pembunuhan), tempat pengadilan ( TKP terjadi di jakarta namun sidangnya di tangerang).
  3. Setelah pembacaan eksepsi, bisa ditanggap oleh jaksa yang disebut dengan jawaban eksepsi. Kemudian hakim bertanya kepada terdakwa: apakah terdakwa terdapat tanggapan terhadap tanggapan jaksa. Jika sudah tidak ada tanggapan lagi, maka adanya keputusan sela oleh hakim. Hasil keputusan tersebut kasus bisa dilanjutkan atau diberhentikan.
  4. Jika dilanjutkan, maka ada pemeriksaan saksi-saksi. Saksi dibagi menjadi dua yaitu saksi berat dan saksi ringan. Saksi berat merupakan saksi yang ikut terlibat di TKP dan diajukan oleh jaksa. Saksi ringan merupakan saksi yang diajukan oleh terdakwa.
  5. Pemeriksaan terdakwa
  6. Pembacaan tuntutan harus sesuai dengan pembacaan dakwaan
  7. Pembelaan oleh terdakwa / pledoi
  8. Replik oleh jaksa
  9. Duplik oleh terdakwa
  10. Keputusan Hakim. Jika terdakwa tidak terima terhadap keputusan, bisa mengajukan banding dipengadilan tinggi. Jika masih tidak diterima, maka bisa kasasi ke Mahkamah Agung.
  11. Jika hakim menyatakan terdakwa bersalah, maka terdakwa masuk penjara.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s